RADIASI :
Arsitekpun Perlu Tahu
29
Dec 2010 05:12:55
Banyak peninggalan pra-sejarah yang ditemukan di dalam gua karena nenek moyang
manusia sejak zaman pra-sejarah telah memanfaatkan gua sebagai tempat
perlindungan. Tempat berlindung itu sendiri pada prinsipnya dibutuhkan oleh
setiap manusia sepanjang zaman untuk melindungi tubuh dari pengaruh
faktor-faktor lingkungan yang kurang menguntungkan seperti panas, cuaca dingin,
angin kencang, hujan, petir dan sebagainya.
Perkembangan peradaban telah mengantarkan manusia mampu membuat tempat
perlindungan dalam bentuk rumah untuk tempat tinggal maupun bangunan sipil
lainnya untuk melaksanakan aktivitas kehidupan sehari-hari seperti hotel,
gedung perkatoran, pasar dan sebagainya. Rumah merupakan kebutuhan primer bagi
setiap orang. Di rumah ini pula sebagian besar aktivitas kehidupan manusia
berlangsung. Mengingat manusia pada umumnya menghabiskan sebagian waktunya di
dalam rumah, maka rumah yang sehat sudah barang tentu merupakan idaman bagi
setiap orang.
Sejalan dengan perkembangan peradaban umat manusia, maka berkembang pula
disiplin ilmu arsitektur yang berkaitan langsung dengan masalah rancang bangun
tempat tinggal. Banyak fenomena alam telah memengaruhi perkembangan arsitektur
modern. Karena itu, dalam arsitektur kita akan menemukan kajian yang berkaitan
dengan lokasi geografis suatu bangunan, sehingga diperkenalkanlah arsitektur
daerah tropis.
Ketika akhir-akhir ini di berbagai belahan bumi diguncang gempa skala besar
yang menghacurkan banyak bangunan sipil dan menelan banyak korban jiwa, maka
dikembangkanlah arsitektur untuk bangunan tahan gempa. Selain itu, ketika
masyarakat dunia dihadapkan dengan masalah krisis energi, maka berkembanglah
kajian arsitektur hijau (green architecture) yang memperkenalkan bangunan ramah
lingkungan, terutama dalam bentuk penghematan penggunaan energi pada bangunan
tersebut. Namun ada satu hal yang selama ini belum menjadi perhatian para
arsitek, yaitu dimasukkannya unsur radioekologis dalam arsitektur.
Aspek Radioekologis
Ekologi
merupakan cabang ilmu pengetahuan yang mempelajari daerah tempat tinggal.
Kemajuan teknologi dan perkembangan industri telah melahirkan pengertian baru
dalam ekologi, yaitu apa yang disebut dengan neo-ekologi atau ecological
complex.
Semakin majunya ilmu pengetahuan dan teknologi dalam tahapan berikutnya juga
melahirkan berbagai cabang kajian baru dalam neo-ekologi, salah satunya
adalah radioekologi yang mengkhususkan diri dalam mempelajari unsur-unsur radioaktif
yang ada di lingkungan.
Masalah terpenting dalam radioekologi yang berkaitan dengan bangunan
tempat tinggal adalah keberadaan radionuklida alamiah dalam berbagai jenis
bahan bangunan dan lokasi-lokasi tertentu dimana bangunan itu berdiri.
Radionuklida alamiah yang saat ini paling mendapat perhatian dari para
ahli keselamatan radiasi lingkungan adalah gas radon. Satu hal yang perlu
diketahui dan mendapatkan perhatian serius adalah bahwa radon merupakan gas
radioaktif yang dapat berperan sebagai sumber radiasi bagi manusia. Oleh sebab
itu, keberadaan gas radon di dalam ruangan akan berperan sebagai sumber radiasi
bagi setiap orang yang berada dalamnya.
Dari mana gas radon berasal ? Gas radon di dalam ruangan terutama berasal dari
tanah, dinding, lantai, langit-langit dan bahan-bahan lain di dalam rumah yang
pembuatannya memanfaatkan bahan-bahan dari dalam perut bumi. Naomi Harley,
profesor peneliti kesehatan lingkungan di Universitas New York, mendapatkan
bahwa 60 persen radon di dalam rumah di New Yersey berasal dari dinding,
fondasi dan lantai. Sumber utama gas radon adalah radionuklida alamiah berumur
paro sangat panjang (milyaran tahun) seperti uranium-238 dan thorium-232. Kedua
unsur tersebut dalam kadar yang relatif tinggi terdapat pada bahan-bahan
tambang.
Oleh sebab itu, penggunaan bahan tambang dan bahan-bahan sisa hasil pengolahan
bahan tambang sebagai bahan bangunan untuk perumahan maupun gedung dapat
memperbesar kadar gas radon di dalam ruangan. Di pasaran beredar beberapa jenis
bahan bangunan yang dibuat dari bahan tambang maupun sisa pengolahan bahan
tambang yang berkadar radioaktif alam tinggi. Beberapa contoh dapat dikemukakan
di sini antara lain adalah : asbes, gipsum, batu bata
dari limbah pabrik alumina, cone block dari limbah abu batubara, blast-furnace
slag dari
limbah pabrik besi, aereted concrete dan sebagainya.
Masalah Kesehatan
Bagi beberapa negara maju seperti Amerika Serikat, Australia, Jepang dan
negara-negara Eropa Barat, masalah gas radon ini telah mendapatkan perhatian
yang serius. Pemerintah Australia misalnya, melalui Commonwealth
of Health, Housing and Community Services telah membuka pusat-pusat
informasi mengenai gas radon di setiap negara bagian. Hal ini dimaksudkan
agar masyarakat dapat memperoleh informasi yang tepat mengenai risiko yang
dapat ditimbulkan oleh gas radon tersebut. Pemerintah Amerika Serikat dan
Jepang juga telah memetakan daerah-daerah dengan kadar gas radon tinggi.
Dari sekian banyak sumber-sumber radiasi alam, radon merupakan sumber radiasi
alam yang paling banyak mendapatkan perhatian sehubungan dengan efek negatif
yang dapat ditimbulkannya. Efek ini berkaitan dengan sifat gas radon sebagai
salah satu penyebab munculnya kanker paru-paru. Efek merugikan dari radiasi
yang dipancarkan gas radon ini sebetulnya telah diketahui sejak abad ke-19.
Pada saat itu para pekerja tambang di Eropa Tengah banyak yang menderita
gangguan kesehatan berupa kanker paru-paru karena diduga menghirup gas radon
dalam jumlah berlebihan. Hasil penelitian yang dilakukan pada pertengahan abad
ke-20 terhadap para pekerja tambang batubara ternyata memperkuat dugaan
tersebut.
Ada daerah-daerah tertentu di Amerika Serikat (AS) yang umur batuannya sangat
tua dan memancarkan gas radon dalam jumlah besar, seperti di Wyoming,
Pennsylvania dan Tennese. Untuk mengatasi masalah gas radon ini, Badan
Perlindungan Lingkungan Hidup AS (EPA) telah memperkenalkan prototip rumah
dengan ventilasi khusus yang mampu mengurangi kadar gas radon dari dalam
ruangan. Ventilasi yang baik sehingga pertukaran udara dari luar ke dalam rumah
berjalan lancar ternyata dapat mengurangi kadar gas radon di dalam ruangan
dengan faktor pengurangan yang sangat tinggi. Sebalinya, rumah maupun bangunan
yang serba tertutup akan menyebabkan gas radon menumpuk di dalamnya, sehingga
risiko kesehatan bagi penghuninya cukup tinggi.
Perlu adanya pertimbangan radioekologis dalam pemanfaatan bahan-bahan tambang
sebagai material utama pembuatan bahan bangunan. Karena pertimbangan itu,
beberapa negara yang sudah menaruh perhatian terhadap masalah keselamatan
radiasi lingkungan, telah melakukan pelarangan penggunaan bahan-bahan bangunan
jenis tertentu yang kandungan radionuklida alamiahnya cukup tinggi.
Pelarangan peredaran bahan bangunan karena pertimbangan radioekologis pernah
dilakukan oleh pemerintah Swedia. Rumah-rumah di negeri itu pada umumnya
bertembok dari bahan bangunan lokal bernama aerated concrete yang telah dipakai sebagai
bahan bangunan sejak abad ke-19 dan mengisi sepertiga pasaran bahan bangunan di
sana. Swedia merupakan negeri dingin sehingga rumah-rumah di negeri itu
membutuhkan penghangat ruangan. Dalam rangka penghematan bahan bakar,
rumah-rumah dibikin bertembok tebal dengan sedikit ventilasi agar tidak banyak
panas dalam ruangan yang hilang. Namun akibat lain pun timbul, yaitu
menumpuknya gas radon dalam ruangan yang dipancarkan dari dinding maupun lantai
rumah. Mempertimbangkan gas radon berdampak negatif terhadap kesehatan manusia,
maka sejak tahun 1979aerated concretetidak boleh dipergunakan sebagai bahan bangunan
rumah.
Di Indonesia, peraturan mengenai masalah peredaran dan penggunaan bahan
bangunan dengan kandungan radionuklida alamiah tinggi ini belum ada. Oleh sebab
itu, diperlukan langkah awal adanya penelitian menyeluruh dan kerjasama antar
instansi terkait untuk mengetahui sejauh mana peredaran dan pemakaian
bahan-bahan bangunan di Indonesia memberikan efek negatif terhadap kesehatan.
Banyak hal yang perlu diketahui oleh para arsitektur berkaitan dengan masalah
radioekologi. Melalui pengetahuan itu, aspek radioekologis dapat
dipertimbangkan sebagai salah satu unsur dalam arsitektur untuk merancang
tempat perlindungan yang bukan hanya indah, nyaman serta aman dari
bencana, ramah lingkungan melalui penghematan penggunaan energi, tetapi juga
sehat ditinjau dari segi radioekologi (Mukhlis Akhadi, Peneliti Utama di
PTKMR-BATAN, Jakarta).
Dikirim
oleh: Mukhlis Akhadi