PLTU SURALAYA
PENGENALAN
DASAR PLTU SURALAYA
Oleh :
Reza Adhy Pradana_200912018
Departement
of Mechanical Engineering STT PLN
PLTU Suralaya
merupakan pembangkit listrik tenaga uap terbesar di ASEAN dengan kapasitas
total sebesar 3400 MW. PLTU Suralaya dimiliki oleh anak perusahaan PT.PLN
(persero) yaitu PT.Indonesia Power. PLTU Suralaya sendiri memiliki 7 unit
pembangkit, yaitu pada unit 1-4 memiliki kapasitas sebesar 4x400 MW sedangkan unit 5-7 memiliki
kapasitas sebesar 3x600 MW. Sekarang sudah ada unit yang baru yaitu unit 8,
tetapi bukan milik PT. Indonesia Power melainkan PT.PLN (persero). PLTU
Suralaya dulu mensuplai 30% kebutuhan listrik nasional. Tetapi sekarang
mensupali 20% kebutuhan listrik nasional dikarenakan sudah banyak pembangkit-pembangkit
yang dibangun di Indonesia.
Proses pembangunannya
sendiri dimulai pada tahun 1980. Membangun PLTU dibutuhkan waktu kurang lebih 3
tahun dan membutuhkan modal yang besar dengan pengembalian modal yang lama.
Dalam pembangunannya, PLTU Suralaya terdapat tiga tahap pembangunan.
Pembangunan tahap pertama sebesar 2x400 MW beroperasi tahun pada 1984. Tahap
kedua sebesar 2x400 MW beroperasi pada tahun 1989. Dan pada tahap ketiga
sebesar 3x600 MW dan beroperasi pada tahun 1997. Jadi umur PLTU Suralaya sudah
27 tahun hampir menginjak 30 tahun.
Umur PLTU sendiri
dirancang untuk 30 tahun. Akan tetapi, dapat beropersai lebih 30 tahun asalkan
memiliki maintenance yang baik. Dan memiliki management operation yang bagus
sehingga effisiensi PLTU sendiri tetap terjaga bahkan meningkat (retrovit).
Karena pada PLTU terdapat proses pembakaran dan memiliki suhu tinggi, biasanya
daerah rawan adalah alat-alat atau perlengkapan yang terkena panas atau efeknya
yaitu boiler tube, safety valve boiler dan hydrogen plant.
Dalam menunjang
aktifitas kepembangkitan di Suralaya, dibangun empat buah dermaga yang berguna
sebagai tempat berlabuhnya kapal-kapal pengangkut batubara dari luar Jawa.
Dermaga pertama untuk kapal pengangkut batubara bermuatan besar yaitu dengan kapasitas
batubara 60 ribu ton. Dermaga kedua untuk kapal pengangkut batubara dengan
kapasitas sebesar 25 ribu ton. Dermaga tiga untuk kapal dengan kapasitas
sebesar 18 ribu ton. Dan dermaga empat dengan kapal batubara kapasitas 8 ribu
ton. Batubara yang masih dikapal diangkut dengan crane sebagai alat pemindah dari kapal ke belt
conveyor. Belt conveyor memindahkan batubara ke area stock batubara ataupun ke
unit.
Setiap harinya PLTU Suralaya
menghabiskan batubara sebanyak 35 ribu ton per harinya. Apabila ada gangguan
pada bahan bakar, maksimal 8 jam sudah dapat teratasi karena proses pembakaran
PLTU membutuhkan waktu yang lama. Untuk menjaga keberlangsungan aktifitas
kepembangkitan, batubara sudah disediakan untuk satu bulan yang akan datang
yang disimpan di area stock batubara. Gunanya untuk mencegah apabila ada
gangguan pengantaran batubara oleh kapal atau suplai dari perusahaan batubara
kurang. Batubara yang digunakan berasal dari bukit asam. PLTU Suralaya dapat
menggunakan batubara dengan nilai kalori sebesar 4200 kcal/kg s.d 5200 kcal/kg
dengan desaign optimalnya adalah sebesar 5100 kcal/kg.
Kenyataannya suplai
batubara dari bukit asam hanya dapat memenuhi setengah dari kebutuhan batubara
di Suralaya. Oleh karena itu, dibutuhkan suplai selain dari bukit asam bisa
dari Kalimantan yaitu dari KIDECO COAL, BROCO COAL, dll asalkan memiliki
spesifikasi batubara yang hampir sama.
Specification
- Steam Turbine :
Mitsubishi Heavy Industries
- Generator :
Mitsubishi Electric Company
- Boiler :
Badblock, made in Canada
- Dll
Pengolahan limbah-limbah
padat di PLTU Suralaya ada yang namanya water spray, electrostatic
precipitator, cerobong, dll. Jadi selain mementingkan hal-hal yang bersifat
teknis disini juga tidak boleh melupakan bagian yang juga terpenting yaitu lingkungan.
Untuk lebih jelas dapat kunjungi http/teknikilmu.blogspot.com


