Total Tayangan Halaman

Jumat, 23 Desember 2011

PLTU SURALAYA


PLTU SURALAYA

PENGENALAN DASAR PLTU SURALAYA

Oleh     : Reza Adhy Pradana_200912018
     Departement of Mechanical Engineering STT PLN

          PLTU Suralaya merupakan pembangkit listrik tenaga uap terbesar di ASEAN dengan kapasitas total sebesar 3400 MW. PLTU Suralaya dimiliki oleh anak perusahaan PT.PLN (persero) yaitu PT.Indonesia Power. PLTU Suralaya sendiri memiliki 7 unit pembangkit, yaitu pada unit 1-4 memiliki kapasitas  sebesar 4x400 MW sedangkan unit 5-7 memiliki kapasitas sebesar 3x600 MW. Sekarang sudah ada unit yang baru yaitu unit 8, tetapi bukan milik PT. Indonesia Power melainkan PT.PLN (persero). PLTU Suralaya dulu mensuplai 30% kebutuhan listrik nasional. Tetapi sekarang mensupali 20% kebutuhan listrik nasional dikarenakan sudah banyak pembangkit-pembangkit yang dibangun di Indonesia.
Proses pembangunannya sendiri dimulai pada tahun 1980. Membangun PLTU dibutuhkan waktu kurang lebih 3 tahun dan membutuhkan modal yang besar dengan pengembalian modal yang lama. Dalam pembangunannya, PLTU Suralaya terdapat tiga tahap pembangunan. Pembangunan tahap pertama sebesar 2x400 MW beroperasi tahun pada 1984. Tahap kedua sebesar 2x400 MW beroperasi pada tahun 1989. Dan pada tahap ketiga sebesar 3x600 MW dan beroperasi pada tahun 1997. Jadi umur PLTU Suralaya sudah 27 tahun hampir menginjak 30 tahun.
          Umur PLTU sendiri dirancang untuk 30 tahun. Akan tetapi, dapat beropersai lebih 30 tahun asalkan memiliki maintenance yang baik. Dan memiliki management operation yang bagus sehingga effisiensi PLTU sendiri tetap terjaga bahkan meningkat (retrovit). Karena pada PLTU terdapat proses pembakaran dan memiliki suhu tinggi, biasanya daerah rawan adalah alat-alat atau perlengkapan yang terkena panas atau efeknya yaitu boiler tube, safety valve boiler dan hydrogen plant.
          Dalam menunjang aktifitas kepembangkitan di Suralaya, dibangun empat buah dermaga yang berguna sebagai tempat berlabuhnya kapal-kapal pengangkut batubara dari luar Jawa. Dermaga pertama untuk kapal pengangkut batubara bermuatan besar yaitu dengan kapasitas batubara 60 ribu ton. Dermaga kedua untuk kapal pengangkut batubara dengan kapasitas sebesar 25 ribu ton. Dermaga tiga untuk kapal dengan kapasitas sebesar 18 ribu ton. Dan dermaga empat dengan kapal batubara kapasitas 8 ribu ton. Batubara yang masih dikapal diangkut dengan crane sebagai alat pemindah dari kapal ke belt conveyor. Belt conveyor memindahkan batubara ke area stock batubara ataupun ke unit.
          Setiap harinya PLTU Suralaya menghabiskan batubara sebanyak 35 ribu ton per harinya. Apabila ada gangguan pada bahan bakar, maksimal 8 jam sudah dapat teratasi karena proses pembakaran PLTU membutuhkan waktu yang lama. Untuk menjaga keberlangsungan aktifitas kepembangkitan, batubara sudah disediakan untuk satu bulan yang akan datang yang disimpan di area stock batubara. Gunanya untuk mencegah apabila ada gangguan pengantaran batubara oleh kapal atau suplai dari perusahaan batubara kurang. Batubara yang digunakan berasal dari bukit asam. PLTU Suralaya dapat menggunakan batubara dengan nilai kalori sebesar 4200 kcal/kg s.d 5200 kcal/kg dengan desaign optimalnya adalah sebesar 5100 kcal/kg.
          Kenyataannya suplai batubara dari bukit asam hanya dapat memenuhi setengah dari kebutuhan batubara di Suralaya. Oleh karena itu, dibutuhkan suplai selain dari bukit asam bisa dari Kalimantan yaitu dari KIDECO COAL, BROCO COAL, dll asalkan memiliki spesifikasi batubara yang hampir sama.

Specification          

-       Steam Turbine         : Mitsubishi Heavy Industries
-       Generator                : Mitsubishi Electric Company
-       Boiler                       : Badblock, made in Canada
-       Dll                                                  

Pengolahan limbah-limbah padat di PLTU Suralaya ada yang namanya water spray, electrostatic precipitator, cerobong, dll. Jadi selain mementingkan hal-hal yang bersifat teknis disini juga tidak boleh melupakan bagian yang juga terpenting yaitu lingkungan.


Untuk lebih jelas dapat kunjungi http/teknikilmu.blogspot.com
















Senin, 19 Desember 2011

Eksternalitas dari energi

Dalam sebuah perkembangan zaman, energi tidak terlepas dari masalah utama yang kita hadapi. Tanpa kita sadari bahwa energi sudah menjadi kebutuhan primer dalam kehidupan sehari-hari, contohnya adalah penggunaan listrik. Listrik merupakan alat vital bagi sebuah negara maju dan berkembang. Salah satu parameter bahwa negara itu maju adalah dari ketahanan energi dan ketahanan pangannya. Dalam artikel ini pokok bahasan utama yang akan dibahas adalah masalah energi ketenagalistrikan. Energi dapat berubah menjadi listrik yang dinikmati oleh jutaan orang pastilah membutuhkan yang namanya proses. Misalnya, dari Batubara pada PLTU (Pusat Listrik Tenaga Uap) dengan proses yang tidak mudah seperti didalam boiler sampai dapat menggerakkan turbin uap.

Pada saat ini dari kita sendiri sudah banyak melupakan bahwa kita sebagai orang teknik jangan sampai melepas  prinsip 3P(provit, people dan planet). Khusunya apabila kita bekerja didalam sebuah kepembangkitan listrik. Provit merupakan salah satu perhitungan utama dalam pelaksanaan operasi ketenagalistrikan. Telah kita ambil contoh sebelumnya adalah PLTU. Pada PLTU di stake (cerobong) mengeluarkan fly ash (abu terbang) yang dapat mengakibatkan hujan asam. Apalagi dampak disekitar daerah yang masih dalam radius tidak terlalu jauh dari PLTU, abu yang dihasilkan dapat mengotori rumah-rumah, jalanan dan bahkan menimbulkan seperti gangguan pernapasan,dll. Karena abu yang dihasilkan adalah sisa-sisa proses pembakaran batubara yang dibuang lewat stake yang kemudian terbang terbawa angin. Abu tersebut biasanya masih mengandung sulfur dan bahan-bahan kimia lainnya tentunya merugikan bagi lingkungan.

Oleh karena itu, kita sebagai orang teknik jangan sampai mengesampingkan people dan planet. Karena hal tersebut sama pentingnya dengan urusan provit. Sebagai contoh kecilnya saja adalah bila anda seorang perokok kemudian anda merokok disekitar orang-orang yang tidak merokok, apa yang terjadi?. Orang yang tidak merokok tersebut menanggung eksternalitas dari asap rokok yang dihasilkan. Coba anda bayangkan apabila perusahan rokok menaikan harga 500 rupiah/bungkus. Uang tersebut digunakan untuk biaya eksternalitas dari asap rokok yang dihasilkan kepada orang yang tidak merokok sehingga orang-orang yang tidak merokok mendapatkan biaya gratis apabila ia berobat dan sakit karena eksternalitas rokok yang anda hisap, jadi ada ekonomi energi dan eksternalitas. Atau mungkin pada PLTU biaya listrik ke konsumen dinaikkan sedikit yang nantinya biaya tersebut digunakan untuk biaya eksternalitas PLTU terhadap lingkungan dan manusia. Toh, tidak ada yang dirugikan disini. Justru ini solusi yang baik kedepannya.

Jangan sampai dengan adanya kemajuan teknologi mengesampingkan dua hal tersebut. Orang-orang yang tidak bersalah justru ikut menaggung eksternalitas yang diakibatkan. Planet kita yaitu bumi menjadi rusak akibat kita masih melupakan atau tidak menyadari bahwa bumi kita harus tetap dijaga dan dirawat.

kuliah teknik pendingin

Kompressor berguna untuk mengkompresi udara sehingga udara menjadi bertekanan sehingga tekanan dan suhu uap refrigerant menjadi naik.

Uap refrigerant yang panas dan bertekanan tinggi dialirkan ke kondensor. Dikondensor uap refrigerant didinginkan oleh air pendingin dan mengembun (kondensasi) menjadi cairan refrigerant. Cairan refrigerant mengalir ke tangki penampung/pengering

Selanjutnya dari kondensor cairan refrigerant masuk ke katub ekspansi, disini sebagian cairan menguap. Pada katub ekspansi terjadi proses throttling, yaitu penurunan tekanan pada entalpy tetap sehingga tekanan dan suhu turun.

Campuran uap dan cairan refrigerant di alirkan dari katub ekspansi ke evaporator, cairan refrigerant masuk ke evaporator. Di evaporator sisa cairan menguap (evaporasi), sambil mengabsorb panas dari sekeliling udara luar yang dialirkan melalui evaporator akan menjadi dingin.