Total Tayangan Halaman

Senin, 19 Desember 2011

Eksternalitas dari energi

Dalam sebuah perkembangan zaman, energi tidak terlepas dari masalah utama yang kita hadapi. Tanpa kita sadari bahwa energi sudah menjadi kebutuhan primer dalam kehidupan sehari-hari, contohnya adalah penggunaan listrik. Listrik merupakan alat vital bagi sebuah negara maju dan berkembang. Salah satu parameter bahwa negara itu maju adalah dari ketahanan energi dan ketahanan pangannya. Dalam artikel ini pokok bahasan utama yang akan dibahas adalah masalah energi ketenagalistrikan. Energi dapat berubah menjadi listrik yang dinikmati oleh jutaan orang pastilah membutuhkan yang namanya proses. Misalnya, dari Batubara pada PLTU (Pusat Listrik Tenaga Uap) dengan proses yang tidak mudah seperti didalam boiler sampai dapat menggerakkan turbin uap.

Pada saat ini dari kita sendiri sudah banyak melupakan bahwa kita sebagai orang teknik jangan sampai melepas  prinsip 3P(provit, people dan planet). Khusunya apabila kita bekerja didalam sebuah kepembangkitan listrik. Provit merupakan salah satu perhitungan utama dalam pelaksanaan operasi ketenagalistrikan. Telah kita ambil contoh sebelumnya adalah PLTU. Pada PLTU di stake (cerobong) mengeluarkan fly ash (abu terbang) yang dapat mengakibatkan hujan asam. Apalagi dampak disekitar daerah yang masih dalam radius tidak terlalu jauh dari PLTU, abu yang dihasilkan dapat mengotori rumah-rumah, jalanan dan bahkan menimbulkan seperti gangguan pernapasan,dll. Karena abu yang dihasilkan adalah sisa-sisa proses pembakaran batubara yang dibuang lewat stake yang kemudian terbang terbawa angin. Abu tersebut biasanya masih mengandung sulfur dan bahan-bahan kimia lainnya tentunya merugikan bagi lingkungan.

Oleh karena itu, kita sebagai orang teknik jangan sampai mengesampingkan people dan planet. Karena hal tersebut sama pentingnya dengan urusan provit. Sebagai contoh kecilnya saja adalah bila anda seorang perokok kemudian anda merokok disekitar orang-orang yang tidak merokok, apa yang terjadi?. Orang yang tidak merokok tersebut menanggung eksternalitas dari asap rokok yang dihasilkan. Coba anda bayangkan apabila perusahan rokok menaikan harga 500 rupiah/bungkus. Uang tersebut digunakan untuk biaya eksternalitas dari asap rokok yang dihasilkan kepada orang yang tidak merokok sehingga orang-orang yang tidak merokok mendapatkan biaya gratis apabila ia berobat dan sakit karena eksternalitas rokok yang anda hisap, jadi ada ekonomi energi dan eksternalitas. Atau mungkin pada PLTU biaya listrik ke konsumen dinaikkan sedikit yang nantinya biaya tersebut digunakan untuk biaya eksternalitas PLTU terhadap lingkungan dan manusia. Toh, tidak ada yang dirugikan disini. Justru ini solusi yang baik kedepannya.

Jangan sampai dengan adanya kemajuan teknologi mengesampingkan dua hal tersebut. Orang-orang yang tidak bersalah justru ikut menaggung eksternalitas yang diakibatkan. Planet kita yaitu bumi menjadi rusak akibat kita masih melupakan atau tidak menyadari bahwa bumi kita harus tetap dijaga dan dirawat.

Tidak ada komentar: